» » Perbandingan Praktek Bank Syariah Indonesia dengan Negara Lain

Oleh: Nasrulloh
Prinsip bagi hasil (profit sharing) merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank syariah secara keseluruhan. Berdasarkan prinsip ini bank Islam akan berfungsi sebagai mitra baik dengan penabung demikian juga dengan pengusaha yang meminjam dana. Dengan penabung, bank akan bertindak sebagai mudharib (pengelola) sementara penabung sebagai shahibul maal (penyandang dana). Antara keduanya diadakan akad mudharabah yang menyatakan pembagian keuntungan masing-masing pihak.
Di sisi lain, dengan pengusaha/peminjam dana, bank Islam akan bertindak sebagai shahibul maal (penyandang dana) baik yang berasal dari tabungan/ deposito/giro maupun dana bank sendiri berupa modal pemegang saham). Sementara itu, pengusaha/peminjam akan berfungsi sebagai mudharib (pengelola) karena melakukan usaha dengan cara memutar dan mengelola dana bank.
Meskipun demikian dalam perkembangannya para pengguna dana bank Islam tidak saja membatasi dirinya pada satu akad yaitu mudharabah saja. Sesuai dengan jenis dan nature usahanya, mereka ada yang memperoleh dana dengan perkongsian, sistem jual-beli, sewa menyewa dan lain-lain. Oleh karena itu, hubungan bank Islam dengan nasabahnya menjadi sangat komplek karena tidak saja hanya berurusan dengan satu akad namun dengan berbagi jenis akad.
Mudharabah terbagi atas dua jenis, yakni yang bersifat tidak terbatas (muthlaqah, unrestricted) dan yang bersifat terbatas (muqayyadah, restricted). Pada jenis mudharabah yang pertama pemilik dana memberikan otoritas dan hak sepenuhnya kepada mudharib untuk menginvestasikan atau memutar uangnya.
Pada jenis mudharabah kedua, pemilik dana memberi batasan kepada mudharib. Diantara batasan itu, misalnya adalah jenis investasi, serta pihak-pihak yang dibolehkan terlibat dalam investasi. Pada jenis ini, shahibul maal dapat pula mensyaratkan kepada mudharib untuk tidak mencampurkan hartanya dengan dana mudharabah.
Aplikasi Mudharabah dalam bank Islam adalah sebagai berikut:
1. Pemisahan total antara dana mudharabah dan harta-harta lainnya, termasuk harta mudharib.
Teknik ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan teknik ini adalah bahwa pendapatan dan biaya dapat dipisahkan dari masing-masing dana dan dapat dihitung dengan akurat. Kelemahan teknik ini, terutama menyangkut masalah moral hazard dan preferensi investasi si mudharib. Akan timbul pertanyaan, di antaranya adalah ke portofolio mana dana tersebut diinvestasikan? Dalam portofolio mana dana tersebut diinvestasikan? Dalam portofolio mana account officer ditugaskan? bagaimana si mudharib (bank) menjelaskan jika rate of return dari dana pemegang saham ternyata lebih besar di banding dengan rate of return dana al mudharabah?.
2. Dana mudharabah dicampur dan disatukan dengan sumber-sumber dana lainnya.
Sistem ini menghilangkan munculnya masalah etika dan moral hazard seperti di atas. Namun dalam sistem ini pendapatan dan biaya mudharabah tercampur dengan pendapatan dan biaya lainnya. Hal ini menimbulkan sedikit kesulitan akunting dalam memperoleh alokasi keuntungan atau kerugian antara pemegang saham dan pemegang rekening.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi bagi hasil, yaitu:
1. Faktor Langsung
Di antara faktor-faktor langsung (direct factor) yang mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah investment rate, jumlah dana yang tersedia, dan nisbah bagi hasil (profit sharing ratio).
Investment rate merupakan persentase aktual dana yang diinvestasikan dari total dana. Jika bank menentukan investment rate sebesar 80 persen, hal ini berarti 20 persen dari total dana dialokasikan untuk memenuhi likuiditas.
Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Dana tersebut dapat dihitung dengan menggunakan salah satu metode:
- Rata-rata saldo minimum bulanan.
- Rata-rata total saldo harian.
Investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan akan menghasilkan jumlah dana aktual yang digunakan.
Nisbah (profit sharing ratio) merupakan salah satu ciri mudharabah yang harus ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian. Nisbah antara satu bank dengan bank lainnya dapat berbeda. Nisbah juga dapat berbeda dari waktu ke waktu dalam satu bank, misalnya deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya sesuai dengan besarnya dana dan jatuh temponya.
2. Faktor Tidak Langsung.
Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah. Bank dan nasabah melakukan share dalam pendapatan dan biaya (profit and sharing). Pendapatan yang dibagihasilkan merupakan pendapatan yang diterima dikurangi biaya-biaya. Jika semua biaya ditanggung bank, maka hal ini disebut revenue sharing.
Kebijakan akunting (prinsip dan metode akunting). Bagi hasil secara tidak langsung dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang diterapkan, terutama sehubungan dengan pengakuan pendapatan dan biaya.
Untuk mendapatkan gambaran tentang metode perhitungan bagi hasil dan pos-pos pengambilannya, berikut ini disampaikan studi kasus dari Kuwait Finance House, Bank Islam Malaysia, dan Bank Muamalat Indonesia.

1. Kuwait Finance House (KFH)
Kuwait Finance House mencampurkan dan mengumpulkan semua dana yang tersedia dalam satu pul (pool). Hal ini mengakibatkan semua biaya dan pendapatan ditanggung bersama antara KFH dengan pemegang rekening investasi.
Penghitungan bagi hasil diproses sebagai berikut:
a. Sumber Dana
 Paid-up capital;
 Akumulasi cadangan;
 Investment accounts;
 Saving accounts; dan
 Current account.
b. Akuntansi untuk Menghitung Bagi Hasil
 Pendapatan dari semua jenis digabung menjadi satu.
 Biaya dari semua jenis digabung menjadi satu.
 Pendapatan dikurangi biaya menghasilkan gross profit.
 Sepuluh persen dari gross profit dialokasikan untuk cadangan.
 Sisanya dialokasikan ke berbagai sumber dana sesuai dengan rasio masing-masing dari total portofolio (proporsional).
c. Investment Rate
 paid-up capital & reserves 100 %
 continuous investment accounts 90 %
 one year investment accounts 80 %
 saving accounts 60 %
Current account tidak dilibatkan dalam perhitungan bagi hasil meskipun sejumlah investasi dananya berasal dari current account. Propit untuk current account dilakukan secara implisit dan proporsional terhadap sumber-sumber lain .
2. Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB)
Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) adalah pionir perbankan Islam di Asia Tenggara. BIMB didirikan pada Tahun 1983 dengan Lembaga Tabungan Haji (Pilgrimage Fund) sebagai pemegang saham utama. Saat ini BIMB memiliki lebih dari 70 cabang dan tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Kuala Lumpur.
Dalam strategi investasinya BIMB mencampurkan semua dana yang tersedia dalam satu pul. Meskipun demikian, BIMB tidak memberlakukan sharing, baik dalam pendapatan maupun biaya.
Perhitungan bagi hasil diproses sebagai berikut:
a. Sumber Dana
 Modal dan Akumulasi Cadangan;
 Investment Accounts (jangka waktu bervariasi 1 hingga 60 bulan);
 Saving Accounts; dan
 Currents Accounts.
b. Investment Rates
Saving Accounts 100 %
Investment Accounts:
 Jangka waktu 1 bulan 80 %
 Setiap perpanjangan 1 bulan, rates dinaikan 5 %
 Jangka waktu 60 bulan 130 %
c. Akuntansi untuk Menghitung Bagi Hasil
Bank Islam Malaysia Berhad menetapkan tiga rekening pendapatan, yaitu:
 Financing and Investment Income Accounts;
 Foreign Exchange Income Accounts; dan
 Fees and Comission Accounts.
Account-account pendapatan ini dikredit berdasarkan cash basis.
Financing and investment income accounts merupakan subjek untuk dialokasikan. Sedangkan pendapatan dari fee dan komisi sepenuhnya menjadi milik bank.
Pendapatan dari pembiayaan, investasi serta valuta asing digabung dan dialokasikan sesuai dengan maturitas berdasarkan saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan. Untuk menunjukan tingkat kontribusi masing-masing jenis investasi, manajemen BIMB memberikan pembobotan sebagai indeks. Besarnya bobot bervariasi 0.8 hingga 1.3, tergantung tingkat maturitas masing-masing investasi.
Semua biaya ditanggung oleh bank (mudharib), termasuk provisi untuk risiko pembiayaan dan operai investasi.
d. Nisbah Bagi Hasil
Nisbah anatara bank (mudharib) dan deiposan (shahibul maal) untuk saving accounts adalah 50 % : 50 %. Sedangkan untuk investment accounts adalah 30 %: 70 % .
3. Bank Muamalat Indonesia (BMI), Tbk.
Bank Muamalat Indonesia mencampurkan semua dana yang tersedia dalam satu pul. Meskipun demikian, BMI tidak memberlakukan sharing, baik dalam pendapatan maupun biaya.
Perhitungan bagi hasil diproses sebagai berikut:
a. Jenis dana pihak ketiga, investment rates, dan bobot:
Deposito
 1 bulan 80 %
 3 bulan 85 %
 6 bulan 90 %
 12 bulan 100%
Rekening Tabungan 88 %
Rekening Koran 70 %
b. Sumber-sumber pendapatan yang dialokasikan dalam proses penghitungan hasil:
Pendapatan mark-up;
Pendapatan komisi pembiayaan;
Pendapatan diskonto SPBU; dan
Pendapatan dari penempatan pada bank lain.
c. Pendapatan yang dibagikan merupakan perbandingan antara total volume rata-rata pihak ketiga dengan total volume rata-rata pembiayaan dikalikan dengan total pendapatan. Dengan kata lain, jika seluruh pembiayaan bersumber dari dana pihak ketiga, maka seluruh pendapatan akan dialokasikan untuk perhitungan bagi hasil.
d. Pendapatan lain, seperti pendapatan transaksi valuta asing, fee, dan komisi, sepenuhnya menjadi milik bank.
e. Pendapatan dialokasikan ke setiap sumber dana secara proporsional sesuai dengan saldo rata-rata harian yang bersangkutan setelah dikalikan dengan bobot (weighting).
f. Bagian pendapatan untuk rekening koran sepenuhnya dimiliki oleh bank dengan asumsi aplikasi rekening koran berdasarkan kontrak wadi’ah. Meskipun demikian, bank tetap memberikan bonus.
g. Semua biaya ditanggung oleh bank termasuk provisi untuk risiko pembiayaan dan operasi investasi.
h. Nisbah yang berlaku sekarang antara bank dan pemegang rekening adalah sebagai berikut:
deposito
 1 bulan 65 : 35
 3 bulan 66 : 34
 6 bulan 66 : 34
 12 bulan 63 : 37
Rekening tabungan 45 : 55
Rekening koran bonus
i. Dari uraian di atas, sebenarnya dalam kasus BMI istilah yang tepat untuk bagi hasil ialah revenue sharing, karena yang dibagikan adalah pendapatan, bukan keuntungan.

About Nasrulloh

Abu Rasyidah Judi Muhyiddin, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi | Pin BB 73ca04f3 | Whatsapp 081315609988 | email salampenyuluh@gmail.com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Pembaca bijak komentar di sini: