» » » Bantahan Atas Penelitian Keperawanan Yogyakarta

Kesalahan Metodologis pada Hasil Penelitian Virginitas yang Dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis Humaniora (LSC dan K serta Pusbih) di Yogyakarta

A. Pendahuluan
Pada tanggal 2 Agustus 2002 di Harian Bernas Yogyakarta dipulikasikan hasil penelitian oleh LSC dan K serta Pusbih mengenai persoalan virginitas dikalangan mahasiswi di Yogyakarta. Hasil penelitian itu mengundang reaksi keras dari masyarakat, khususnya yang kontra terhadap hasil tersebut. Reaksi keras diantaranya dari LBH, LSM wanita, pejabat daerah, beberapa anggota DPRD dan GKR Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwana X. Tuisan ini akan mengkaji hasil penelitian tersebut dari sisi metodologis yang baku sehingga pembaca dapat menilai hasil penelitian tersebut dengan objektif.
 
B. Profil Peneliti dan Hasil Penelitiannya
Data-data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari Harian Bernas Online dari tanggal 2 s/d 22 Agustus 2002. Sebagai informasi pihak peneliti tidak pernah menyampaikan hasil penelitiannya secara utuh dan tertulis.
a. Peneliti: LSM LSC dan K serta Pusbih, Yogyakarta
b. Ketua peneliti: Iip Wijayanto
c. Anggota: 15 orang termasuk 13 diantaranya wanita
d. Judul penelitian: ada dua
Versi I : “Virginitas dan Keperjakaan sebagai Partner Kontrol dan Agama—sebagai Upaya Solusi Alternatif dari Terpaan Globalisasi”
Versi II (revisi): “97,05 persen dari Responden Mahasiswa dan Mahasiswi di Wilayah Pemukiman Komersial di Yogyakarta pernah Melakukan Aktivitas pra Nikah”
e. Populasi: Mahasiswi di 16 PT di Yogyakarta
f. Sampel: 2000 mahasiswi
g. Data terkumpul: 1660
h. Lokasi: daerah kos-kos-an di Kecamatan Depok, Gondomanan, Gondokusuman, dan Jalan Kaliurang
i. Lama penelitian: 2 tahun (versi I) dan 3 tahun mulai 16 Juli 1999 s/d 16 Juli 2002
j. Pendekatan: Kualitatif
k. Metode penelitian: tidak jelas
l. Teknik sampling: tidak jelas
m. Instrumen pengambilan data: tidak jelas
n. Teknik analisa: tidak jelas
o. Laporan: hanya diumumkan hasilnya secara lisan melalui press release
p. Output: “Dari 1660 responden (mahasiswi) di 16 perguruan tinggi di DIY terdapat 97,05% yang sudah kehilangan virginitas melalui kegiatan intercourse-seks”
 
C. Kesalahan-Kesalahan Metodologis yang dibuat
Pada bagian ini akan membahas kesalahan-kesalahan metodologis yang telah dibuat oleh pihak peneliti akan dikategorikan menjadi: 1) kesalahan perencanaan (planning error), 2) kesalahan pengambilan data (collection error), 3) kesalahan analisa (analytical error) dan 4) kesalahan pelaporan (reporting error).
c.1. Kesalahan Perencanaan (planning error)
Kesalahan perencanaan terjadi terutama disebabkan oleh adanya ketidak jelasan perumusan masalah. Dalam kasus penelitian virginitas tersebut tidak dijelaskan apa sebenarnya masalahnya dan bagaimana perumusannya. Penulis hanya menemukan judul penelitian tersebut sebagai berikut: Versi I : “Virginitas dan Keperjakaan sebagai Partner Kontrol dan Agama—sebagai Upaya Solusi Alternatif dari Terpaan Globalisasi” dan versi II (revisi): “97,05 persen dari Responden Mahasiswa dan Mahasiswi di Wilayah Pemukiman Komersial di Yogyakarta pernah Melakukan Aktivitas pra Nikah”. Dari judul pertama penulis berasumsi bahwa pihak peneliti ingin melakukan penelitian yang menyangkut masalah virginitas dan keperjakaan. Judul tersebut juga mencerminkan tiga hal yang dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan masalah, yaitu: 1) virginitas dan keperjakaan, 2) agama dan 3) globalisasi.
Kesalahan dalam merumuskan masalah menyebabkan kesalahan dalam menentukan tujuan penelitian Secara metodologis fomulasi masalah dalam penelitian harus ada karena pada dasarnya penelitian yang dilakukan adalah untuk menjawab masalah tersebut. Jika formulasi masalah tidak jelas, maka tujuan penelitian menjadi tidak terarah. Berdasarkan informasi yang penulis kumpulkan tujuan penelitiannya ialah: “ sebagai upaya re-design bagi lembaga yang diikutnya”. Jika kita melihat tujuan penelitian ini, maka penelitian LCSK dan Pusbih dikategorikan sebagai penelitian pengembangan institusi. Jika institusi LCSK dan Pusbih yang akan di redisain, maka seharusnya obyek penelitiannya adalah lembaga itu sendiri bukan melakukan penelitian masalah virginitas dengan obyek pihak lain. Secara metodologis terjadi ketidak cocokan antara tujuan penelitian dan obyek yang diteliti.
 
Perkembangan berikutnya pihak peneliti menyampaikan lagi bahwa tujuan penelitiannya ialah “untuk membasmi free sex pra nikah”. Tujuan penelitian ditetapkan sebelum penelitian dilaksanakan atau tepatnya ditulis pada proposal. Tujuan penelitian erat hubungannya dengan formulasi masalah, karena tujuan penelitian ialah untuk mencari jawaban masalah yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Tujuan penelitian sebaiknya konsisten dengan masalah yang ditentukan. Dalam penelitian yang baik, tidak boleh terjadi ketidak-cocokkan antara formulasi masalah dan tujuan penelitian. Pada tataran ini, penelitian tersebut belum mempunyai tujuan yang jelas.
 
Kesalahan berikutnya ialah tidak jelasnya desain penelitian yang digunakan padahal suatu penelitian yang baik harus menggunakan desain-desain yang sudah baku. Jika pendekatan kuantitatif yang digunakan maka desainnya harus dirancang sematang mungkin. Desain harus bersifat spesifik dan detail karena desain tersebut merupakan rancangan penelitian yang akan dilaksanakan. Sebaliknya dalam pendekatan kualitatif desain digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitian dan desain bersifat fleksible serta dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang ditemui di lapangan. Dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh LSC&K – Pusbih, desain yang tidak jelas menyangkut cara pengambilan sample sebanyak 2000 orang. Dari mana angka tersebut dapat muncul. Teknik sampling apa yang digunakan? Bagaimana mereka menentukan penyebaran pengambilan datanya? Mengapa mereka menentukan lokasi-lokasi kos-kos-an tertentu sebagai tempat mencari data? Menurut hemat penulis, pihak peneliti mengambil angka 2000 tersebut didasarkan pada teknik non-probabilitas yang tidak menggunakan aturan statistik yang ada. Teknik sampling seperti ini hanya didasarkan pada “kecocokkan” dengan asumsi dan tujuan penelitian. Berkaitan dengan penentuan lokasi pengambilan data penulis berasumsi bahwa pihak peneliti sebelum terjun mengambil data sudah mempunyai asumsi bahwa di daerah-daerah tersebut akan mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Hal ini dapat terjadi karena pihak peneliti sudah mengenal kondisi populasi daerah tersebut. Dari sisi perancangan desain, peneliti tidak membuat desain sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Pendekatan kualitatif tidak memerlukan jumlah sample yang besar, tetapi lebih mengarah pada kualitas sample. Oleh karena itu sample dapat kecil.Penelitian memerlukan teknik tertentu, jika pendekatannya kualitatif, maka teknik yang digunakan ialah observasi atau observasi terlibat langsung. Jika pendekatan kuantitatif, maka tekniknya ialah observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kusioner, atau melakukan eksperimen. Penelitian LSC&K – Pusbih sama sekali tidak menyebutkan teknik apa yang digunakan dalam melakukan penelitian selama 2 atau 3 tahun sebagaimana disebutkan dalam laporannya. Sehingga memunculkan pertanyaan bagaimana caranya mereka mendapatkan informasi tersebut dan instrumen apa yang digunakan. Jika mereka menggunakan pendekatan kualitatif, maka observasi langsung mereka gunakan. Hal ini diperkuat dengan lamanya rentang waktu dalam melakukan penelitian. Jika mereka menggunakan kuesioner, maka kesalahan teknik telah mereka buat. Karena pada umumnya kuesioner digunakan untuk penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Asumsi penulis, mereka menggunakan kuesioner karena mereka memunculkan angka-angka kuantiatif, seperti persentase.
c.2 Kesalahan Cara Pengumpulan Data (collection error)
Kesalahan cara mengumpulkan data dapat terjadi diakibatkan adanya kecerobohan peneliti pada tahap perencanaan penelitian. Pada kasus penelitian di atas, kesalahan terletak pada penentuan sample sejumlah 2000 dari total mahasiswa dan mahasiswi yang bejumlah kurang lebih 200.000 orang. Sebagaimana telah disebut diatas, pihak peneliti tidak menggunakan metode penarikan sample yang baku. Konsekuensi logis dari penarikan sample tersebut, angka 2000 tidak dapat mencerminkan populasi. Jika dikaitkan dengan pendekatan yang digunakan, maka kuantitas responden bukan hal yang utama, melainkan kualitas responden yang harus diuatamakan. Bukan jumlah yang dipentingkan tetapi kedalaman dalam mengungkap persoalan yang ada. Berkaitan dengan cara pemilihan responden, peneliti telah mengabaikan faktor
seleksi, sebagai salah satu cara untuk mendapatkan validitas internal pada hasil penelitiannya.
Dalam pemaparannya, pihak peneliti juga tidak menyebutkan instrumen apa yang digunakan untuk mengambil data. Apakah menggunakan kuesioner atau dengan teknik wawancara. Penentuan instrumen akan menentukan jenis data dan kualitas data Disamping itu pembuatan instrumen pengambilan data harus dilakukan secara sistematis dan mengikuti aturan-aturan metodologis yang ada. Jika dilakukan dengan sembarangan, maka data yang terkumpul akan salah dan menyesatkan.
Terdapat kontradiksi mengenai lamanya waktu pengambilan data seperti tertera dalam Harian Bernas 2 Agustus 2002. Bagian pertama menyebutkan penelitian dilakukan selama 2 (dua) tahun, dan bagian berikutnya mengatakan penelitian dilakukan selama 3 (tiga) tahun. Penulis menggunakan versi 3 (tiga) tahun. Jika penelitian itu dilakukan selama itu, maka akan terdapat perubahan-perubahan pada diri para responden, yang disebut sebagai faktor “maturasi” disebabkan lamanya waktu penelitian. Jika faktor seleksi dan maturasi diabaikan maka hasil penelitian tersebut tidak akan mempunyai “validitas internal”.
Berkaitan dengan perumusan masalah, data yang dikumpulkan harus mempunyai kualitas yang dapat digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti. Kualitas artinya adanya kesesuaian metodologis antara masalah dengan data yang digunakan untuk menjawab masalah. Jika masalahnya berkaitan dengan ukuran / penghitungan yang hasilnya digunakan sebagai sarana membuat inferensi, maka jenis datanya setidak-tidaknya interval. Jika masalah tidak berkaitan dengan ukuran atau penghitungan maka jenis datanya dapat nominal atau ordinal.
c.3. Kesalahan Analisa (analytical error)
Salah satu sebab utama terjadinya kesalahan analisa ialah karena peneliti salah dalam menggunakan teknik analisa. Teknik analisa dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif berbeda dengan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Sehubungan dengan penelitian virginitas tersebut, peneliti telah salah melakukan analisa karena mereka menggunakan pendekatan kualitatif tetapi hasil analisanya berupa angka-angka kuantitatif. Jika peneliti konsisten dengan pendekatan yang digunakan, mereka tidak boleh menggunakan persentase untuk mengukur hasil penelitiannya. Alat anlisa kualitatif yang digunakan diantaranya ialah analisa domain, taksonomi, kompenonensial atau tema cultural. Teknik analisa kualitatif tidak dipakai untuk mengukur tetapi digunakan untuk mencari hubungan semantis dari data atau informasi yang terkumpul.
c.4. Kesalahan Pelaporan (reporting error)
Kesalahan pelaporan terjadi disebabkan peneliti salah dalam melakukan interpretasi hasil penelitiannya. Kesalahan tersebut terjadi pada saat dia menginterpretasi hubungan dan angka-angka yang sudah diketemukan. Berkaitan dengan penelitian virginitas tersebut, peneliti salah dalam melakukan interpretasi terhadap data yang telah dikumpulkan. Data kualitatif tetapi dilaporkan dalam bentuk kuantitatif. Kesimpulannya ialah bahwa angka 97,05% tidak berlaku untuk populasi mahasiswi di Yogyakarta, tetapi hanya berlaku bagi responden yang sudah dipilih sebelumnya.
Besarnya angka penemuan dalam penelitian tersebut dapat juga menimbulkan kecurigaan bagi para pembaca (masyarakat). Kemungkinan penyebab pertamanya
ialah penelitian sudah diarahkan hasilnya sesuai dengan keinginan pihak peneliti. Kemungkinan penyebab kedua peneliti “memanipulasi data”. Solusi masalah ini ialah pihak peneliti secara terbuka mempresentasikan metode yang digunakan secara trasparan.
D. Generalisasi dan Replikasi Hasil Penelitian
Pihak peneliti juga berminat akan melakukan penelitian pembanding di kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Jika peneliti melakukan penelitian tersebut dengan metode yang sama, maka hasilnya akan bermasalah sebaimana penelitian pertama. Seperti diketahui bahwa penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif desainnya tergantung pada kondisi populasi. Secara metodologis, desain yang sudah digunakan di populasi tertentu belum tentu cocok untuk digunakan sebagai desain penelitian untuk populasi lain.
 
Salah satu persayaratan agar suatu desain penelitian dapat digunakan untuk meneliti masalah sejenis dengan populasi berbeda ialah desain tersebut harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Validitas internal berkaitan dengan tingkat dimana hasil penelitian dapat dipercaya kebenarannya; sedang validitas ekstrenal menyangkut tingkat dimana hasil penelitian dapat digeneralisasi pada level populasi., latar belakang dan kondisi-kondisi sejenis lainnya. Apabila hasil penelitian tidakmempunyai validitas internal, secara otomatis penelitian tersebut juga tidak mempunyai validitas eksternal. Kesimpulannya desain penelitian yang telah digunakan untuk meneliti masalah virginitas di kalangan mahasiswi di Yogyakarta, tidak dapat digunakan untuk penelitian di kota-kota lain. Jika pihak peneliti ingin melakukan replikasi sebaiknya mereka membuat desain penelitian yang baru dan desain tersebut sebaiknya menggunakan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif mempunyai sifat-sifat yang baku, terstruktur, formal, spesifik, dan dirancang secara matang; jika digunakan oleh peneliti yang baik maka hasil penelitiannya akan mempunyai tingkat validitas yang tinggi.
 
E. Etika Penelitian
Dunia penelitian mempunyai rambu-rambu yang disebut etika penelitian, diantaranya ialah berkaitan dengan pihak peneliti, individu atau kelompok yang diteliti dan pihak pembaca (yang berkepentingan). Berkaitan dengan ketiga komponen tersebut, maka etika yang seharusnya ditaati oleh para peneliti diantaranya ialah:
• Pembaca / masyarakat berhak mengetahui hasil penelitian yang objektif, oleh karena itu, seorang peneliti yang berdedikasi tidak akan pernah memanipulasi hasil penelitannya.
• Hasil penelitian sebaiknya tidak menimbulkan luka fisik dan / atau mental terhadap yang diteliti, oleh karena itu peneliti harus merahasiakan data-data para respondennya.
• Hasil penelitian sebaiknya dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan saja, oleh karena itu tidak semua hasil penelitian harus dipublikasikan secara umum
Mempublikasikan hasil penelitian yang sensitive, seperti masalah virginitas dikalangan mahasiswi sebaiknya tidak perlu diumumkan secara luas, tetapi dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang langsung terkait, misalnya perguruan
tinggi dimana responden kuliah, pihak pemda agar mengeluarkan regulasi mengenai kos-kos-an dan pihak terkait lainnya. Jika tetap ingin dipublikasikan secara umum, sebaiknya sebelumnya hasil penelitian tersebut dipresentasikan terlebih dahulu dihadapan para ahli penelitian, psikolog, sosiolog dan ahli agama untuk memverifikasi validitas metode yang digunakan serta kaitannya dengan bidang ilmu lain dan nilai-nilai sosial serta agama.
Referensi:
Cosenza, Davis. 1985. Business Research for Decision
Making. California:Wadsworth
Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang: YA3
Mueller J. Daniel. 1992. Mengukur Sikap Sosial. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Sarwono, Jonathan. 2002. Majalah Ilmiah Unikom vol 1. no.1 tahun II,
“ Perbedaan Dasar Antara Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif” Bandung: Universitas Komputer Indonesia
------------ Harian Bernas 2 Agustus 2002:”Ribuan Mahasiswi di DIY tak Perawan”
------------ Harian Bernas 3 Agustus 2002: ”Validitas Survei Keperawanan Diragukan”
------------ Harian Bernas 7 Agustus 2002:”Hasil Penelitian Soal Keperawanan Jadi Warning”
------------ Harian Bernas 10 Agustus 2002:”Peneliti Mahasiswi Tak Perawan Minta Maaf”
------------ Harian Bernas 12 Agustus 2002:”GKR Hemas Tegaskan: Jangan Terpengaruh Kepenelitian Keperawanan”
------------ Harian Bernas 15 Agustus 2002: “Iip Diadukan ke Polisi, Buntut Penelitian Keperawanan”
------------ Harian Bernas 16 Agustus 2002: “Hasil Penelitian Keperawanan Harus Diumumkan”
------------ Harian Bernas 17 Agustus 2002:”Buntut Penelitian Keperawanan, Diminta Pasang Iklan Minta Maaf Satu Bulan”
------------ Harian Bernas 21 Agustus 2002:”Respon Penelitian Keperawanan Tidak Proposional”
------------ Harian Bernas 22 Agustus 2002:”Tingkat Abosrsi Mahasiswi 7 kasus per Hari”

Sumber:Jonathan Sarwono
Lembaga Penelitian Universitas Komputer Indonesia Bandung
Email: jsarwono@unikom.ac.id

About Nasrulloh

Abu Rasyidah Judi Muhyiddin, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi | Pin BB 73ca04f3 | Whatsapp 081315609988 | email salampenyuluh@gmail.com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar:

  1. kalau ngga benar dan valid memang perlu ada bantahan balik. agar mereka pada ngerti, kalau nulis jangan asal, tul ngga nas...

    BalasHapus

Pembaca bijak komentar di sini: