» » PROSPEK PERBANKAN SYARIAH DAN IMPLIKASINYA BAGI PERADILAN AGAMA

Setelah melalui proses yang panjang dan perdebatan yang alot akhirnya RUU Perbankan Syariah pada tanggal 16 Juli 2008 disahkan menjadi Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Ini berarti eksistensi perbankan syariah telah memiliki payung hukum. Dengan ditebitkannya UU Perbankan Syariah ini, diharapkan dapat memacu pertumbuhan perekonomian nasional, memberikan kontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan, kesejahteraan rakyat, dan membuka lapangan kerja.
Di samping itu, kehadiran UU Perbankan Syariah akan memperkokoh fundamen hukum perbankan syariah sehingga dapat setara dan sejajar dengan bank konvensional yang lebih dahulu eksis.

Dengan disahkannya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, diharapkan target pangsa pasar perbankan syariah sebesar 5% pada 2010 dapat dicapai. Menurut data yang ada hingga saat ini aset perbankan syariah hanya sekitar 1,7% dari total aset perbankan nasional atau sekitar Rp. 40 triliun. Untuk mencapai target pangsa pasar 5% pada 2010, menurut Deputi Gubernur BI Siti Fadjriah aset perbankan syariah harus mencapai sekitar Rp. 90 triliun.

Perkembangan peluang bisnis pasca diterbitkannya UU Perbankan Syariah adalah orientasinya meningkatkan minat investor dalam maupun luar negeri yang akan masuk dalam industri perbankan syariah. Untuk itulah perlu peningkatan kepastian hukum transaksi perbankan syariah di Indonesia. Dengan munculnya sentra-sentra ekonomi berbasis syariah seperti perbankan syariah, Baytul Mal Wattamwil (BMT), asuransi suyariah, koperasi syariah, pegadaian syariah, MLM syariah, pasar modal syariah, reksa dana syariah, dan lain-lain, dengan sendirinya memerlukan upaya keras dan sungguh-sungguh untuk memunculkan konsep universal megenai sistem ekonomi Islam secara utuh dan konprehensif yang akan memayungi sentra-sentra ekonomi berbasis syariah. Perbankan Syariah akhirnya mendapat payung hukum setelah disahkan RUU Perbankan menjadi Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Ada beberapa point penting dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, salah satunya adalah memberikan kewenangan pembinaan dan pengawasan perbankan syariah kepada Bank Indonesia Pasal 50.
Kewenangan pengawasan juga dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang direpresentasikan Dewan Pengawas Syariah yang wajib dibentuk dibentuk pada masing-masing bank syariah dan unit usaha syariah (UUS) bank konvensional (Pasal 32).
Prospek perbankan syariah sangat cerah, mengingat pangsa pasarnya yang sangat besar. Kekuatan yang dimiliki bank syariah sampai akhir 2007, menurut laporan Bank Indonesia terdapat 3 bank umum syariah (BUS), 26 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 114 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Dengan kekuatan tersebut, tersebut, perbankan syariah berhasil membukukan 2,8 juta rekening nasabah, sedangkan velume usaha bank syariah hingga akhir 2007 baru mencapai Rp. 36,5 triliun atau sekitar 1,8%dari aset perbankan nasional.

Dengan prospek perbankan syariah yang demikian itu, banyak bank konvesional membuka cabang unit usaha syariah (UUS) secara langsung maupun melalui konversi cabang-cabang konvensionalnya menjadi bank syariah.
Untuk mendorong pertumbuhan perbankan syariah dibutuhkan adanya dukungan yang kuat dari berbagai pihak, terutama umat Islam agar sistem ekonomi berdasarkan syariah dapat terus tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah ini merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik dan unik, karena fenomena ini terjadi pada saat perekonomian nasional maupun global berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Di tengah-tengah ketidakstabilan perekonomian global saat ini akibat terjadinya krisis keuangan global dan masih rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi moneter, bank syariah tetap dapat mampu berdiri tegak di tengah-tengah berbagai terpaan rintangan dan persaingan yang terjadi. Potensi yang besar tersebut, harus mampu memacu institusi perbankan syariah sendiri untuk lebih kreatif, inovatif, dan terorganisir secara profesional. Tantangan saat ini adalah sejauhmana pelaku perbankan syariah dapat memformulasikan kegiatan-kegiatan dalam membangun perekonomian nasional setelah mendapat payung hukum berupa UU No. 21 Tahun 2008. Bank Syariah diharapkan mampu menjawab segala harapan dan optimisme akan pentingnya sistem Islam diterapkan dalam dunia perbankan.
UU No. 21 Tahun 2008 dan Peradilan Agama

Dengan diterbitkannya UU Perbankan Syariah, maka kewenangan absolut peradilan agama dalam memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syariah, khususnya sengketa perbankan syariah makin kuat, karena dalam Pasal 55 ayat (1) UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah ditentukan bahwa apabila terjadi sengketa Perbankan Syariah, maka yang berwewenang mengadili adalah pengadilan dalam lingkup peradilan agama. Pasal tersebut, sejalan dengan ketentuan Pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama. Dalam pasal tersebut ditentukan bahwa salah kewenangan absolut peradilan agama adalah memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan sengketa ekonomi syariah.
Sebagai konsekuensi logis dari ketentuan tersebut, maka aparat peradilan agama, khususnya para hakim dituntut untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menangani perkara-perkara yang berkaitan dengan perbankan syariah.
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keterampilan para hakim peradilan agama dalam memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan sengketa ekonomi syariah, Mahkamah Agung RI telah menerbitkan Perma No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah. Kompilasi tersebut, merupakan pedoman bagi para hakim di lingkungan peradilan agama dalam memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah agar dapat memberikan putusan yang adil dan benar.

About Nasrulloh

Abu Rasyidah Judi Muhyiddin, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi | Pin BB 73ca04f3 | Whatsapp 081315609988 | email salampenyuluh@gmail.com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Pembaca bijak komentar di sini: